Kali Pancur, curahan air di kaki Gunung Telomoyo

Lanjutan dari perjalanan sebelumnya di Menembus kabut puncak Telomoyo, kami lalu menuju destinasi berikutnya yaitu Kali Pancur. Lokasinya berdekatan dengan Puncak Telomoyo, kalau ngga salah sih juga berada di kaki Gunung Telomoyo.

Kali Pancur merupakan nama sebuah Air Terjun yang memiliki ketinggian mencapai 100m dan berada di Desa Nogosaren tepatnya di lereng Gunung Telomoyo yang juga bersumber dari sungai yang berada di gunung tersebut dan bermuara di Rawa Pening di Desa Banyu Biru.

IMG_20150308_165759

Menurut warga sekitar, kawasan ini murni dikelola oleh penduduk setempat bukan dikelola oleh Pemda. Retribusi masuk nya pun murah cuma Rp 2.000,00 sudah termasuk parkir. 😀 Waktu kami kesini cuma ada beberapa motor dan dilihat dari plat nomor kendaraan hanya warga sekitar Kopeng saja ternyata..

Akses menuju air terjun akan melewati anak tangga yang sudah di semen dengan baik oleh warga, namun perlu perjuangan ekstra untuk sampai ke bawah mengingat jumlah anak tangga nya yang mungkin hampir seribuan, selain itu turunan yang berkelok-kelok.

*penampakan air terjun dari kejauhan

*penampakan air terjun dari kejauhan

Dari foto diatas bisa kebayang kan tingginya 😀 Di tengah perjalanan akan ada sebuah rumah yang ternyata merupakan kolam mata air. Airnya pun jernih sekali, dan terdapat patungnya juga. Mungkin kolam mata air itu dikeramatkan oleh warga setempat.

IMG_20150308_152935 (copy)

Semakin dekat dengan air terjun ternyata semakin cakep pemandangannya 😀 Kalau dibandingin dengan Grojogan Sewu Tawangmangu kayaknya lebih tinggi ini, selain itu pemandangan disini dan suasana alamnya jauhhhh lebih asri dan alami disini..

IMG_20150308_153436

Meskipun saat itu hari Minggu, namun Air Terjun ini tergolong sepi wisatawan, paling hanya beberapa saja sehingga kita bisa foto-foto en maen air sepuasnya. Tapi hati-hati jangan berdiri di curahan air terjun nya, bisa kejatohan batu nanti kepalanya, berabe kan..

InstagramCapture_0960a0f6-70d1-46a1-8419-09b00e30c013

Setelah 2 jam-an, kita lalu pulang. Namun masih ada tantangan berikutnya yaitu menaiki anak tangga yang tinggi itu.. hahahahaha. Dalam perjalanan pulang kita sempat mampir ke Magelang untuk menikmati kuliner khas Magelang yaitu Nasi Lesah. Wuih joss pokoknya !!

Nasi Lesah, warisan kuliner khas Magelang yang mulai punah

Pesan dari saya, kalau wisata alam gitu mbok tolong sampah-sampah dibawa pulang ya. Jangan buang sampah sembarangan, kasian kan alamnya kalo ga dirawat dan dilestarikan padahal sudah memberi kebaikan melalui keindahan dan manfaatnya untuk makhluk hidup. 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s