Blitzkrieg to Bromo

“Four Wheels Moves the Body but Two Wheels Moves the Soul..” -Anonymous

Berawal dari ajakan si Adit (teman saya) untuk pergi refreshing sebelum menyambut bulan Puasa, akhirnya muncul beberapa usulan destinasi untuk riding kali ini. Diantaranya : camping di Telomoyo, riding ke Tawangmangu, Pacitan, Kebumen, Dieng (meskipun sudah berkali kali) dan akhirnya mengerucut ke pilihannya si Johny untuk menyusuri pantai-pantai jalur lintas selatan.

Namun setelah saya lihat-lihat di googlemap, yang ada di benak saya saat itu adalah “Tanggung!”. Ya.. dengan jarak perjalanan yang menempuh 500km PP, kenapa ngga ke Bromo sekalian aja ?? Mengingat riding ke Bromo adalah salah satu keinginan saya sejak pertama kali saya kesana menggunakan mobil. Dan setelah saya mengusulkan saran ke Bromo, akhirnya si Adit dan Johny menyetujuinya..

Kami menuju Bromo dengan melewati rute dari arah Malang – Tumpang. Pemandangan ketika mulai menanjak Pegunungan Bromo bisa dikatakan lebih bagus disini ketimbang melewati rute Probolinggo. Namun kondisinya ? Hmmm… bisa dicoba buat kalian yang demen jalan rusak.. hehehe..

Karena waktu kita sampai masih pagi sehingga kami tidak dikenai karcis retribusi masuk Taman Nasional Bromo. Lumayan menghemat Rp 32.500 nih… πŸ˜€

Oh ternyata ini adalah rute menuju Ranu PaniΒ dan Semeru. Kami juga menjumpai beberapa crosser yang menuju kearah Ranu Pani..

Sedangkan kami ??.. Tentu lebih memilih main pasir di Lautan Bromo !!

Seperti inilah kondisi jalan menurun kearah Lautan Pasir Bromo. Saya menjumpai motor matic tidak kuat untuk boncengan dan mengharuskan boncenger nya untuk turun. Saya pun juga demikian meskipun boncengan dengan menggunakan Byson. (Bukannya ngga kuat.. sayang motor tepatnya..) Ya.. lagian supaya saya bisa lebih leluasa dalam menjepret beberapa gambar dengan menggunakan DSLR. πŸ™‚

Akhirnya sampai juga di Lautan Pasir Bromo ! Fiuh.. rasa pegal di badan akhirnya terbayarkan dengan pemandangan menakjubkan khas Bromo.. Dengan pelan kami menyusuri lautan pasir itu agar ban motor kami tidak selip dan terjatuh.

Spot pertama ketika kami turun adalah Bukit Telletubies.. Meskipun masih pagi namun sudah ramai oleh para wisatawan yang berkunjung dengan menggunakan Jeep sewaan.

Selanjutnya kami menuju spot yang dinamakan Pasir Berbisik..

Kami memilih spot Pasir Berbisik untuk mengambil gambar lebih banyak karena disini sepi wisatawan, hanya jeep yang berlalu-lalang menuju Bukit Telletubies dan sebaliknya.

Lanjut lagi kami menuju Gunung Batok, kami tidak mendaki keatas karena sebelumnya kami sudah pernah kesana, cukup hanya di bawah saja untuk mengambil foto bersama motor dan ini beberapa hasilnya…

Setelah dirasa cukup kami kembali pulang ke Jogja pukul 12.00 siang melalui rute Cemoro Lawang – Probolinggo. Kami memilih rute ini dengan pertimbangan terlanjur melewati Lautan Pasir Bromo. Selain itu mencoba rute lain agar tidak bosan dalam perjalanan meskipun menempuh jarak yang lebih jauh dari rute keberangkatan.

Untuk rute Cemoro Lawang – Probolinggo ini lebih ramai dari rute pertama tadi dikarenakan ini merupakan rute utama. Penginapan, Villa, maupun warung-warung mudah ditemukan disini. Kondisi aspal yang lebih baik juga memungkinkan mobil untuk melintas di jalur ini.

Perjalanan pulang ? Ngga banyak yang bisa diceritain selain macet dan panas. Dan ketika sampai di Jogja pun wajah kami menjadi seperti gembel karena asap dan debu jalanan. Haha..

“This journey will continue..” πŸ™‚
Sampai jumpa di petualangan berikutnya !!

Advertisements

5 thoughts on “Blitzkrieg to Bromo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s