Camping di perkebunan teh

Awalnya kami sempat putus asa menemukan tempat ini. Ya.. bisa dibilang putus asa karena kami berangkat terlalu larut malam sedangkan kami belum mengenal betul perkebunan teh ini…

Kami merasa terbantu oleh kehadiran teman saya, Daniel dari Bikepacker Kaskus/Nusantaride ikut menemani dalam perjalanan kali ini, meskipun ia hanya ikut riding tidak ikut menginap di tenda.

Sempat kesasar berkali-kali dan melewati jalanan yang rusak, namun akhirnya kami menemukan sebidang lahan yang kosong dan dikelilingi oleh tanaman teh. Segera kami mendirikan tenda dan menyalakan kompor.

Di keesokan hari, matahari perlahan-lahan muncul memancarkan sinarnya, sedikit demi sedikit akhirnya kami bisa melihat dengan jelas lukisan alam di pagi itu. Keceriaan mulai tampak di raut wajah teman-teman saya, Adit, Johny, dan Andre. Kami pun berjalan santai mengelilingi areal perkebunan selagi teman-teman yang lain masih tertidur nyenyak.

Tak disangka-sangka tempat ini begitu indah di pagi hari. Udara sekitar yang masih sejuk dan bersih, ditambah asrinya pepohonan yang tumbuh rimbun di sela-sela kebun teh seakan menjadi obat kekhawatiran kami semalam. Ya.. kami selalu menemukan tempat yang indah di ujung perjalanan kesasar kami.

“Berinteraksi dengan warga pedesaan adalah hal yang selalu saya rindukan.. Saya terpesona akan kejujuran dan ketulusan mereka. Mereka begitu apa adanya tanpa manipulatif seperti orang-orang kota”

Pagi itu areal perkebunan teh mulai didatangi oleh para buruh tani. Mereka berduyun-duyun dengan berjalan kaki dan sebagian menggunakan kendaraan bermotor. Bekal makan tak lupa mereka bawa untuk makan siang nanti. Ada hal yang membuat saya kagum. Meskipun kami hanyalah pendatang sedangkan mereka adalah tuan rumah, namun nyatanya mereka justru yang selalu memulai menyapa kami. Senyuman ikhlas terpancar dari raut wajah mereka.

Sayang sekali teman-teman lainnya yang masih tertidur pulas di dalam tenda karena mereka melewatkan pemandangan indah seperti ini..

Kami kembali ke tenda lalu memasak mie rebus dan kopi. Meskipun cukup lama kami diluar tadi ternyata teman-teman yang lain masih tidur juga. Hahaha

   Ngopi paling nikmat ya di tempat seperti ini..

Sampai jumpa lagi di petualangan selanjutnya. Pesan saya adalah “Leave No Trace.” Yang artinya “Meninggalkan tanpa jejak”, entah berupa sampah, kegiatan merusak/vandalisme, maupun bakar-bakaran. Mereka yang berdiam diri di rumah justru lebih baik daripada traveller yang destruktif. 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s