Camping 17 Agustus 2015 di Puncak Telomoyo

Banyak hal yang dilakukan oleh orang-orang dalam merayakan Hari Kemerdekaan, salah satunya adalah dengan naik ke gunung.. Namun saya lebih suka menyikapinya dengan tirakatan, merenung, dan intropeksi diri daripada kegiatan selebrasi dan euforia sesaat.

Sebenarnya tujuan awal saya ke Puncak Telomoyo ini bukan untuk merayakan Hari Kemerdekaan, melainkan hanya untuk mengisi kegiatan akhir pekan. Kali ini saya berangkat bersama Dede (admin wisatarodadua.com), dan Kris (teman Bikepacker Kaskus).

Ada yang unik dalam perjalanan ini dimana pertama kalinya saya melihat seekor babi hutan yang besar sekali sedang jalan-jalan santai dengan majikannya. Sebelumnya bahkan sempat diwarnai dengan insiden mengerikan dimana seorang penunggang matic yang sampai salto menabrak sebuah pembatas jalan. Beruntung ia tidak luka parah dan segera dikondisikan oleh warga setempat.

Angin bertiup sepoi-sepoi ketika kami mulai menanjaki Gunung Telomoyo, disertai oleh pemandangan yang menentramkan hati. Berangsur-angsur sang matahari juga pamit kembali ke peraduan.

Sesuai juga dengan harapan saya bahwa tidak ada seorangpun yang berada di Puncak Telomoyo ini. Bahkan penjaga gardu pun juga nampaknya lebih memilih pulang.

Karena suara besi besi menara yang riuh diterpa oleh angin malam dan suara gemresik listrik, maka kami urungkan niat untuk berkemah di areal gardu dan memilih spot di paralayang.

Tenda sudah beres dan kami mulai makan bekal yang kami bawa. Diantara kami hanya Dede yang sempat membawa bekal nasi dan akhirnya dibagi menjadi 3. Kami juga tidak sempat membawa kompor karena semua sudah habis disewa untuk acara 17 Agustus.

Udara yang semakin dingin dan tidak adanya Kompor membuat kami tidur lebih awal. Selang beberapa saat kami mendengar suara gaduh diluar dan ternyata para pengunjung lain mulai berdatangan. Mereka mulai mendirikan tenda di sekeliling tenda kami. Mungkin mereka adalah pelarian dari gunung sebelah (Gunung Andong) yang telah sesak wisatawan.

Matahari sedikit demi sedikit mulai menampakkan diri. Ternyata kami tepat dalam memilih tempat ! Di hadapan tenda kami adalah arah dimana matahari terbit. Proses terbitnya matahari berlangsung sangat sempurna, cuaca yang cerah dan tanpa awan mendung. Sayang kami tidak sempat mengabadikan momen terbitnya Matahari tersebut dengan baik.

Ngomong-ngomong fotonya kok gaenak banget yah ? didepan orang pacaran..

Sejenak menyaksikan keharmonisan alam ini membuat saya termenung. Termenung akan sejarah panjang Bangsa ini beserta Para Pahlawan yang telah berjuang hingga kita bisa merasakan Kemerdekaan Negara saat ini. Mengalami penjajahan Belanda selama 350 tahun, dan Jepang kurang lebih 3,5 tahun, mempertahankan pulau-pulau yang hampir lepas dari Bumi Pertiwi ini. Bukan waktu yang singkat dan mudah untuk melewati itu semua. Terlalu banyak tetesan air mata dan darah yang dikorbankan.. Namun sekarang kita telah lepas dari penindasan tersebut dan itu adalah hal yang luar biasa ! Indonesia adalah Bangsa yang besar !!

Bangsa yang besar adalah Bangsa yang menghargai jasa Pahlawannya dan tidak lupa akan sejarah panjang Bangsa itu sendiri.

Selanjutnya kami mulai berkemas-kemas dan pulang meskipun masih pagi karena suasana dan pemandangan dalam perjalanan pasti lebih sejuk. Untuk rute pulangnya kami memilih rute lewat ketep dan selanjutnya melewati jalan pedesaan yang tembus langsung ke kota Muntilan.

Jangan lupa kalau kita pergi ke alam bebas, sampah-sampah dikumpulin dan dimasukkan ke dalam kantong plastik dan selanjutnya dibawa turun kebawah ya !! 😀

Sampai jumpa di petualangan selanjutnya !! 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s