Antara Gunung Sumbing dan Gunung Merapi

Setiap akhir pekan biasanya saya sering menghabiskannya dengan berkendara ke alam bebas untuk melepas kejenuhan rutinitas kerja. Dan kebetulan sekali, Gibran teman saya menawarkan untuk main ke rumah keduanya yang berada di kaki Gunung Sumbing.

Perjalanan kali ini saya bersama dengan teman-teman dari Bikepacker Kaskus DIY-Jateng. Mereka adalah : Kris, Dimas, Firli, dan Mas Fathur. Namun karena Mas Fathur berangkat dari Boyolali, kami menentukan titik kumpul di pertigaan Blabag-Ketep Pass.

Sepanjang jalan Jogja-Magelang banyak ditemui beberapa truk pasir  yang mulai beroperasi. Pemandangan seperti ini mengingatkan saya akan perjalanan Jogja-Magelang yang dulunya sering saya tempuh paling tidak seminggu 2-3 kali. Namun ada yang berubah.. saya tidak lagi menjumpai para buruh pasir yang setia menunggu truk pasir tersebut dari pinggir jalan dengan mengayun-ayunkan senter maupun sekop pasirnya, berharap si supir truk mau berhenti dan menggunakan jasanya.

Ada kenikmatan tersendiri berkendara di malam hari, salah satunya intensitas kendaraan lain yang sepi membuat kita santai dan leluasa untuk berkendara. Selain itu dinginnya malam juga menambah syahdunya berkendara sambil mengamati kegiatan warga di tepi jalan.

Sesampainya di rumah Gibran kami beristirahat karena esoknya akan mengejar Sunrise di kaki gunung Sumbing. Namun sebelum kami tidur tetep… selalu ada obrolan santai dan diselingi guyonan-guyonan khas Bikepacker.. hahaha !!

Keesokan harinya Gibran membawa kami ke tempat yang biasa disebut “terminal” oleh warga sekitar. Bayangan saya, yang namanya terminal pasti ramai oleh aktivitas warga dan pasti terdapat angkutan umum. Namun melihat jalan yang terus menaik ke dataran tinggi kaki gunung, rasanya tidak mungkin terdapat terminal diatas sana.

Ya.. dugaan saya benar, ternyata terminal itu hanya sebuah lahan kosong di kaki gunung yang beralaskan aspal yang mulai mengelupas. Dari sini kami berhenti dan menikmati pemandangan sekitar..

Karena jarak yang terlalu dekat dengan Gunung Sumbing, sehingga tidak bisa mendapatkan gambar gunung dengan luas, kami kembali turun sedikit kebawah..

Dan disini kami mendapatkan view yang sempurna.. Selagi kami berfoto-foto ria, mas Fathur mulai mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.. Adalah sebuah unit drone supaya dapat mengambil foto lebih luas lagi dari atas..

Dan hasilnya bukan main-main, alat tersebut berhasil mendapatkan pemandangan terbaik dari atas sana..

Dalam perjalanan turun kebawah kami mampir ke rumah neneknya Gibran. Ketika berbincang-bincang dengan beliau, tak disangka rupanya si nenek dulunya adalah seorang kepala desa di desa itu dan beliau bercerita banyak tentang desanya. Sebuah pengetahuan yang cukup menarik bagi saya pribadi. Oh ya, beliau juga memiliki beberapa petak lahan tembakau yang digarap oleh buruh tani desa itu sendiri.

Kami lalu kembali ke rumah Gibran dan disinilah moment yang seru karena si Kris bermain gitar sambil melantunkan beberapa lagu yang diselingi oleh guyonan sehingga membuat kami semua tertawa terbahak-bahak. Beberapa lagu bahkan ditujukan kepada Gibran yang nampaknya sedang galau, hahaha ..

Selagi kami beristirahat, Mas Fathur kembali mengabadikan foto desa dari udara.

Hari mulai sore, kami mulai undur diri karena selanjutnya akan melanjutkan perjalanan ke Kali Boyong, Gunung Merapi sedangkan Gibran tetap tinggal di desa.. Kami diantar Gibran waktu pulang namun melewati rute yang berbeda dan kami sempat kesasar di jalan menuju arah makam desa yang terletak di kaki gunung.

Karena kami tiba di kali Boyong pada larut malam, kami urungkan niat berkemah disini karena suasana yang terasa “singup” dengan pohon bambu yang menjulang tinggi dan tertutup. Kami lebih memilih berkemah di gardu pandang Merapi meskipun harus berputar jauh.

Meskipun di area gardu pandang Merapi sedang ramai mahasiswa yang mengadakan acara, kami tidak peduli. Bagi kami yang terpenting mendirikan tenda dan tidur ! Hehehe

Di pagi harinya kami kembali lagi ke Kali Boyong. Dalam perjalanan kami mampir sarapan soto sapi. Kalau lagi jalan-jalan, memang masakan soto adalah yang “pas” untuk disantap di pagi hari. Dan pilihan saya tepat karena rasa sotonya ternyata enak.. praktis menambah semangat kami berkendara.

Dan inilah Kali Boyong yang dimaksud. Kali ini merupakan kali aliran lahar dingin Gunung Merapi sehingga sepanjang aliran kali terdapat tumpukan material batu dan pasir. Namun pada musim kemarau tidak ditemukan adanya aliran air disini. Di ujung sana bisa dilihat bukit Turgo. Konon katanya dulu bukit Turgo ini telah berjasa melindungi kota Jogja dari erupsi Merapi pada jaman dulu..

Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan untuk pulang kerumah masing-masing. Dalam perjalanan pulang kami sempat mampir di jembatan gantung kali Boyong untuk sekedar ngopi di siang hari karena kebetulan sekali Firli membawa kompor mini dan nesting. Memang kalau blusukan sambil ngopi-ngopi di alam bebas itu nikmat sekali ya !

 

Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya !!

Advertisements

7 thoughts on “Antara Gunung Sumbing dan Gunung Merapi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s