[Part 1] Sumbawa Odyssey – 5 islands – over 2100km

Sudah sejak lama saya memiliki hasrat untuk berkendara menuju wilayah timur Indonesia. Keinginan tersebut semakin membara tatkala teman saya Satria, sudah terlebih dahulu menuntaskan perjalanannya pada tahun 2013 silam. Ya.. menjelajahi setiap jengkal Bumi Pertiwi dengan sepeda motor merupakan impian sebagian orang termasuk saya dan menurut saya itu adalah sebagai suatu cara untuk mengenal lebih dalam tentang keanekaragaman alam dan budaya serta sebagai wujud untuk mencintai Indonesia.

Indonesia itu luar biasa, sobat…

Tujuan awal saya sebenarnya yaitu menuju Danau Kelimutu, Flores, NTT. Namun apa daya, pekerjaan saya yang sebagai pegawai kantoran biasa membuat jatah libur saya menjadi terbatas. Selain itu saya juga terkendala dengan peralatan yang belum memadai dan membutuhkan ongkos yang tidak sedikit tentunya. Dan pada akhirnya saya memutuskan untuk menuju Pulau Sumbawa saja.

Untuk perjalanan ini awalnya saya hanya merencanakan dengan teman satu kantor, Agil namanya. Namun seiring berjalannya waktu, teman saya Gibran akhirnya juga tertarik untuk ikut dalam perjalanan ini. Di kemudian hari saya juga berjumpa dengan mas Bondan yang mencari barengan untuk menuju pulau Lombok, sehingga akhirnya terkumpul 4 orang dengan 3 motor.

Semua persiapan sudah saya siapkan jauh-jauh hari. Kondisi motor harus jadi perhatian yang utama karena selanjutnya saya akan bergantung pada Typhoon, nama tunggangan saya. Tidak lupa saya membawa oli, busi, bohlam, kabel kopling beserta kunci-kunci lengkap.

 

Day 1 (18 Oktober 2015)

“There is great meaning in life for those who are willing to journey.”

-Jim England

Hari yang dinanti-nanti telah tiba. Hari dimana saya akan memulai perjalanan yang selama ini saya impikan. Perasaan senang, semangat, takut menjadi satu.

Segera saya berpamitan dengan orang tua dirumah, memohon restu supaya perjalanan panjang kali ini berlangsung lancar dan pulang dengan selamat. Keberangkatan saya dari rumah ditemani oleh dua teman saya, mereka adalah Johny dan Adit. Sejujurnya merekalah penyemangat saya, dan kehadiran mereka seakan menjadi booster mental saya saat itu.

Saya terlebih dahulu menuju kediaman Agil dan selanjutnya menuju meeting point di Jembatan Janti. Maklum, karena dalam perjalanan ini kami harus boncengan.

Dan perjalanan panjang pun dimulai… !!

Saya memelintir gas dengan pelan meninggalkan Kota Jogja. Saat itu kondisi lalu lintas sedang padat dikarenakan jam-jam pulang kerja. Beberapa orang melihat kami dengan mimik wajah keheranan. Entah apa yang dipikirkan mereka..

 

Untuk formasi berkendara saya sudah bisa menebaknya dari awal. Motor byson saya dengan boncengan dan muatan penuh tentulah tidak bisa mengimbangi kecepatan Tiger dan Honda CB150R. Sudah pasti saya tertinggal jauh, sedangkan mereka dapat berkendara dengan terus menempel dan membentuk irama yang indah. Akhirnya saya biarkan saja mereka untuk melaju terlebih dahulu dan saya berjalan sesuai kemampuan, toh perjalanan juga masih jauh.

Perjalanan melintasi Jawa Timur akan lebih mudah di malam hari karena intensitas kendaraan tidak sepadat siang hari, selain itu kita juga terhindar dari teriknya matahari yang menyengat. Namun masalah utama bagi orang berkacamata seperti saya sudah jelas, pancaran lampu mobil dan kendaraan besar cukup mengganggu penglihatan saya, apalagi lalu lintas di malam hari lebih didominasi oleh bus Jatim yang terkenal “angker” dengan pernak pernik lampunya yang menyilaukan mata.

Yang saya harapkan dari perjalanan malam ini adalah supaya bisa melihat PLTU Paiton. Konon, pembangkit listrik tenaga uap tersebut akan terlihat indah pada malam hari.

Berbagai kota telah sukses dilewati. Dan ketika melewati kota Probolinggo, dari kejauhan sudah tampak cahaya merah kekuningan. “Ya, tinggal sebentar lagi sampai, itu pasti PLTU Paiton !”, guman saya. Dan ternyata benar saja, PLTU Paiton tersebut berdiri megah dengan berhiaskan cahaya yang berasal dari lampu-lampu.

How lucky i’m, dalam perjalanan perdana menuju timur ini, saya mendapat timing yang “pas”. Saya bisa melihat PLTU Paiton di malam hari !!

 

Day 2 (19 Oktober 2015)

Morning has come, and the adventure begins !!

Masih ada moment yang sempurna lagi buat saya seusai melewati PLTU Paiton. Kegelapan malam mulai pudar dan digantikan oleh semangatnya pagi. Melintasi jalur tepian pantai dengan sejuknya pagi seakan menjadi kado atas perjalanan saya semalaman..

Perahu-perahu nelayan, orang-orang dusun bersepeda, matahari yang sempurna, beserta jalanan yang diselimuti oleh kabut-kabut tipis.. Adakah suasana syahdu selain ini ?

Sebentar lagi kami akan memasuki Baluran. Dan tentunya memasukin kawasan Taman Nasional tersebut adalah kesempatan emas yang sayang untuk dilewatkan.

Saya hanya berdua saja dengan Agil ketika memasuki kawasan Taman Nasional Baluran, sedangkan teman kami, Gibran dan mas Bondan akan menuju Pulau Dewata terlebih dahulu.

Dari pintu masuk Taman Nasional Baluran menuju padang rumput Savana yang dinamai “Bekol” ternyata lumayan jauh (9km), dan kondisi jalan tergolong tidak rata, atau hancur lebih tepatnya.

Dalam kawasan ini kami menemukan beberapa satwa liar seperti ayam hutan, berbagai jenis burung, kera, dan sekumpulan kerbau. Sayangnya kami kurang beruntung karena kawanan rusa tidak tampak sejauh mata memandang. Padahal saya sangat berharap sekali untuk bisa bertemu mereka.

Kawanan kerbau dan kera itu tampak akur dengan berbagi sumber air dan tempat untuk berteduh..

Sekumpulan banteng juga terlihat di kawasan ini, namun mereka harus diberi kandang sendiri karena mungkin terlalu usil. Seekor dari mereka bahkan menatap dengan tajam dan tidak melepaskan pandangannya kearah saya sampai saya pergi meninggalkan kandang tersebut.

Just calm down !, saya cuma numpang bengong, kok.

Pergi meninggalkan Taman Baluran, saya sempatkan juga untuk berfoto di tempat yang sangat ikonik disini, yaitu pajangan tengkorak kerbau dan sebuah pohon yang duduk sendirian di padang yang gersang.

Selanjutnya kami bersiap-siap untuk menginjakkan kaki di Pulau Dewata. Pulau yang selama ini belum pernah saya singgahi sekalipun.

Pulau Dewata sudah terlihat didepan dengan dipisahkan oleh Selat Bali. Bali i’m coming !!

 

[Part 2] Sumbawa Odyssey – 5 islands – over 2100km

Advertisements

6 thoughts on “[Part 1] Sumbawa Odyssey – 5 islands – over 2100km

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s