[Final Part] Sumbawa Odyssey – 5 islands – over 2100km

Kurang lebih 2 jam an kami di atas kapal dan ditemani oleh alunan lagu tembang kenangan dan Koes Plus. Pilihan lagu-lagu awak kapal tersebut pas sekali untuk memberi kesan mendalam dalam penyeberangan menuju Sumbawa dan akhirnya sukses membuat saya tertidur …

[Part 2] Sumbawa Odyssey – 5 islands – over 2100km

[Part 1] Sumbawa Odyssey – 5 islands – over 2100km

Sekitar 2 jam penyeberangan Pulau Sumbawa mulai menampakkan diri di kejauhan. Ada rasa haru seketika melihat Pulau yang selama ini saya impikan telah ada di depan mata.

Diiringi oleh lagu Kau selalu dihatiku ciptaan Ernie Djohan, kapal melaju pelan dan merapatkan dirinya ke dermaga. Yes… Kau selalu di hatiku, Indonesia !!

Pintu kapal mulai terbuka seakan mempersilahkan kami untuk menjelajahi negeri Sumbawa..

Tujuan awal kami di Pulau Sumbawa adalah Pulau Kenawa, yang bisa ditempuh dengan perahu kecil milik nelayan setempat. Rencananya kami akan menginap di Pulau Kenawa untuk semalaman.

Menyeberang ke Pulau Kenawa ternyata hanya sebentar, kurang lebih 20 menit. Dan sesampainya disana hanya kami saja yang menjadi wisatawan di pulau tersebut.

Enaknya Gibran karena dia bisa berenang dan snorkeling sedangkan saya dan Agil memilih untuk menikmati suasana dari atas saja. Sebenarnya buat pembenaran saja karena saya aslinya tidak bisa berenang, hahahaha

Di pulau ini juga terdapat sebuah bukit yang terjal. Dan salut buat Agil karena ia mungkin menjadi pendaki pertama dari Jogja. Dengan lugunya ia mendaki bukit tersebut padahal saya dan Gibran hanya bercanda bilang : “Gil, kayaknya kalo lu naik ke bukit itu, pemandangannya keren dah, coba dah naik !” hahahaaha

Dan bener juga, pemandangannya bagus euy !!

Saking bagusnya sampai-sampai ada Pak Polisi beserta anak buahnya yang sedang patroli dateng ke pulau ini dan nanyain ke saya dengan wajah keheranan “Siapa itu yang sendirian di atas bukit ?” hahahahaha gokil dah.

 

Day 5 (22 Oktober 2015)

Setelah semalaman menginap di pulau ini tanpa menggunakan tenda dan diterjang angin malam yang sangat kencang, kami lalu kembali ke Pulau Sumbawa dan akan melanjutkan perjalanan menuju Sumbawa Besar. Namun sayang, Gibran akan kembali ke Pulau Bali sehingga tinggal kami berdua saja dalam perjalanan ini. Meskipun Gibran sudah bilang kalau di Sumbawa Besar tidak ada apa-apa disana, namun saya tetap berangkat karena rasa penasaran yang sudah lama terpendam.

Hoho, akhirnya ngerasain juga seperti apa aspal Sumbawa itu..

Ada yang bilang kalau aspal Sumbawa lebih halus karena dalam pengerjaannya ada kerja sama dengan Australia. Hal demikian benar adanya. Seperti yang saya rasakan ketika menempuh jarak dari Poto Tano menuju Sumbawa Besar. Saking halusnya dan sepi tanpa traffic light, saya sampai capek untuk menggeber gas. Namun saya tetap waspada karena ternak warga dibiarkan lepas di jalanan.

This is it !! Kota “Sumbawa Besar” . Sepintas yang saya rasakan ketika berada di kota ini adalah.. Ternyata suasananya masih sama saja dengan kota-kota yang berada di Pulau Jawa. Perbedaan yang sangat mencolok justru saya rasakan ketika berada di Pulau Bali.

Saya menyempatkan makan sore di kota dan bercakap-cakap kepada si pemilik warung.

saya : mas, klo di kota ini yang jadi tempat menariknya dimana mas?
pemilik warung : ga ada mas, disini ga ada apa-apa, mas nya dari mana?
saya : dari jogja mas
mas nya langsung bengong
pemilik warung : haa ?? mas nya dari Jogja motoran mau kemana tujuannya ?
saya : cuma ke Sumbawa Besar sini mas
pemilik warung : walahhh, jauh-jauh ke Jogja cuman mau kesini, di kota ga ada apa-apa mas, paling cuma ada taman kota kecil.

Karena kurangnya referensi dan melanjutkan perjalanan ke Pulau Moyo apalagi Pulau Komodo adalah hal yang mustahil, akhirnya kami putuskan untuk sampai di sini saja titik terjauh kami berkendara. Selanjutnya kami kembali ke Pulau Lombok untuk menjelajahi deretan pantai-pantainya.

Pelabuhan Badas, dalam perjalanan pulang..

Ada kesan tersendiri ketika melewati jalan lintas provinsi di Sumbawa di malam hari. Suasana yang sepi dan sunyi, hanya terdengar suara motor kami saja yang memecah keheningan malam itu. Sesekali kami juga menjumpai truk lintas provinsi dalam perjalanan pulang.

 

Day 6 (23 Oktober 2015)

Sesuai dengan jadwal saya bahwa kami tiba di Pulau Lombok pada pagi harinya. Motor segera saya arahkan untuk menuju deretan pesisir pantai Pulau Lombok yang sudah sangat kondang itu. Dan tujuan pertama kami adalah Pantai Pink !

Setelah membuka peta manual saya baru sadar bahwa ternyata letak Pantai Pink tersebut jauh berada di ujung pojokan Pulau. Dan kondisi jalan bisa dikatakan rusak parah dan lumayan jauh. Hal ini menimbulkan keraguan dan rasa tidak tenang dalam batin saya.

Namun karena Agil tetap antusias, akhirnya saya putuskan untuk tetap melanjutkan menuju Pantai Pink tersebut.

Cukup jauh kami menempuh jalanan yang rusak tersebut. Di sisi jalan hanya terdapat hutan dan rumah-rumah tradisional yang konon ditempati oleh Suku Lombok yang masih asli. Dan feeling tidak enak saya benar-benar terbukti disini. Motor kami terjatuh pada saat melewati turunan !

Lokasi dimana kami terjatuh…

Kondisi jalan yang rusak parah dengan kerikil-kerikil tipis serta motor dalam keadaan beban berat membuat daya cengkraman ban tidak berfungsi dengan baik. Saya berusaha keras untuk menahan motor dengan kaki hasilnya pun nihil karena sepatu juga ikut terpeleset. Meskipun motor dipacu sangat pelan namun akibatnya tetap fatal. Segitiga motor sudah tidak dalam kondisi normal lagi sehingga stang jadi miring, shock depan menjadi sedikit bengkok, dan motor penuh dengan baretan.

Selain itu saya sendiri juga mengalami beberapa cidera. Ibu jari saya memar karena tertimpa ujung stang dan bisa dibayangkan sakitnya seperti apa. Selain itu pergelangan tangan saya yang dulu pernah patah akhirnya kumat lagi dan disertai kesleo di beberapa jari.

Okay, saya putuskan untuk segera kembali ke pangkalan setelah insiden ini !

Meskipun sepertinya tanggung sekali untuk pulang karena Pantai Pink sudah di depan mata. Namun ini bukan soal keberanian seperti di film-film petualangan, saya berpikir akan kemungkinan terburuk lagi jika saya tetap nekat. Saya merasa diperingatkan oleh-Nya untuk segera kembali ke rumah.

Untuk perjalanan pulang ini saya sangat bergantung pada boncenger saya, yaitu Agil. Ia menggantikan saya untuk mengemudikan motor karena kondisi tangan saya yang nyeri tidak karuan. Saya juga merasa hampir pingsan dalam perjalanan apalagi ketika kami sampai di pelabuhan Lembar. Namun tetap saya tahan, perjalanan masih panjang.

Sejauh-jauhnya kita melangkah, keluarga adalah tempat untuk kembali

Agil tetap mengemudikan motor hingga kami sampai di Gilimanuk. Sesekali kami beristirahat karena kondisi badan saya menjadi “drop”.

 

Day 7 (24 Oktober 2015)

Sampai di Banyuwangi saya mulai mengatur rencana. Bertanya-tanya kepada jasa paket motor namun ternyata ongkos paket motor lumayan juga. Akhirnya saya putuskan supaya Agil naik kereta saja untuk mengurangi beban motor, sedangkan saya akan melanjutkan perjalanan kurang lebih 600 kilometer lagi.

Bagaimana kondisi perjalanan pulang ? Lumayan “menempa” saya sebenarnya. Panas yang terik beserta tangan yang masih nyeri. Ditambah lagi dengan kondisi motor yang rusak sehingga saya mengemudikan motor tidak lebih dari 70 kilometer perjam dengan stang miring. Beberapa kali bahkan saya mampir ke minimarket untuk membeli minuman dingin karena sangat melelahkan. Hingga sampai di Ngawi saya terpaksa menunggu malam tiba karena saking panas dan ruwetnya perjalanan di siang hari.

Saya sampai di Jogja di malam hari, begitu juga dengan Agil. Sedangkan Gibran masih tetap tinggal di Bali selama seminggu. Mas Bondan sebenarnya barengan dengan saya ketika dari Banyuwangi, namun karena dia ngebut, akhirnya saya ketinggalan jauh.

Sekian cerita perjalanan panjang ini. Terima kasih Tuhan atas perlindungannya. Keluarga dan teman-teman yang selalu mendukung terutama untuk perjalanan ini, dan tentunya si Typhoon yang telah menuntaskan tugasnya, “membawaku pulang dengan selamat”.

Untuk Gibran dan Agil ? Well.. bayangkan perasaan anda (pembaca) ketika anda berpergian di tempat yang jauh dan asing, namun anda masih memiliki teman yang setia dalam perjalanan anda. Anda tentunya pasti merasa aman, tenang, dan bahagia, begitu juga dengan saya. 🙂

Seperti kata beberapa motorcycle enthusiast

You will never ride alone…

Advertisements

4 thoughts on “[Final Part] Sumbawa Odyssey – 5 islands – over 2100km

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s