Journey to the East, Bali

wp-1471952811647.jpg

Takut dan antusias. Dua perasaan tersebut seakan tak terpisahkan ketika saya akan memulai perjalanan jauh, apalagi bila menggunakan sepeda motor. Sejenak saya meninggalkan kenyamanan rumah dan keluar untuk membuka peta baru. Tempat yang sebelumnya hanya saya lihat melalui televisi, majalah, dan media lainnya.

Laksana seorang pelaut, saya ingin berlayar untuk melihat sendiri bahwa tempat itu benar-benar ada…

Saya tidak sendirian dalam perjalanan ini. Dari awalnya hanya bertiga namun bertambah lagi hingga kami jadi berenam. Mereka adalah Johny, Adit, Andre, Arga, dan Dede. Jujur saya kagum akan semangat mereka, akan wujud kecintaan mereka terhadap alam Indonesia khususnya Pulau Bali.

Kalau Bali diibaratkan adalah orang, siapa sih yang tidak merasa dirinya spesial bila dikunjungi dari tempat yang jauh apalagi dengan sepeda motor ?

Kami berangkat ketika matahari sudah kembali ke peraduannya. Perjalanan malam kami pilih untuk menghindari panas dan hiruk pikuk kemacetan jalanan di Jawa Timur yang terkenal panas dan keras.

Sialnya, kami sempat salah memilih rute sehingga mengharuskan kami untuk menembus dinginnya jalan pegunungan Lawu. Very not recommended untuk melewati rute Tawangmangu dan Sarangan di malam hari. Udara yang dingin merasuk badan serta jalanan yang gelap gulita dan diselimuti oleh kabut tebal seakan menguji mental kami.

Usai bergelut dengan dinginnya malam di Pegunungan Lawu, kini giliran teriknya siang di Pantura yang akan kami hadapi. Jujur saja fisik kami pun mulai drop karena pergantian suhu yang kontras ini.

Dengan melewati jalan Pasuruan – Banyuwangi pada siang hari, beberapa moment pun terlewatkan seperti pemandangan malam PLTU paiton dan sunrise Pasir Putih Panturanya yang terkenal indah.

Tak mengapa, kami masih memiliki segenggam harapan untuk tempat-tempat selanjutnya. The party must go on !!

Mendekati Taman Nasional Baluran, sepanjang jalan kami disuguhkan pemandangan pohon-pohon jati yang meranggas di musim kemarau. Sungguh suasana yang tenang sekali, meski sedikit khawatir karena bahan bakar sudah menipis.

Hello Baluran, how are you ? It’s the second time we met. Sayang sekali kami hanya numpang lewat karena keterbatasan waktu.

Setelah sempat diwarnai oleh rasa kantuk yang berkepanjangan dan putusnya tali rantai motor si Arga, akhirnya sampai juga kami di Selat Bali.

There we go !! Pulau Bali tepat di depan mata. Tinggal satu lompatan lagi nih !!

Pemandangan luar biasa dari Selat Bali ini seakan menjadi minuman pelepas dahaga bagi jiwa-jiwa yang haus akan pemandangan indah selama menempuh perjalanan ke Bali.

Segera kami masuk ke lambung kapal dan memanfaatkan ruang ber AC untuk tidur.

Kami memilih rute Singaraja karena ingin mendapatkan pengalaman berkendara yang sempurna di Bali. And seems it went very well. You must try when you go to to Bali by Motorcycle, trust me !!

Jalanan yang mulus, bebas macet, dan… Apalagi kalau bukan keasrian desa khas Bali beserta masyarakatnya yang masih tradisional. Pemandangan yang tidak dapat ditemukan bila melewati rute arah Denpasar.

Lihat.. Betapa si dede menikmati perjalanannya, gass teruss !

Kami tiba di Bedugul larut malam dan menginap semalaman di sini. Kamar-kamar sudah dipesan oleh Andre yang lebih dahulu ke Bali lewat jalur udara. Enaknya…

Hari kedua kami di Bali adalah berkunjung ke tempat wisata dataran tinggi. Untuk menu sarapannya, kami memilih Pura Ulun Danu Beratan. Mumpung masih pagi, sejuk dan sepi wisatawan.

Jika ada perbedaan saturasi warna pada foto-foto terlampir di atas, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan. XD

Selanjutnya adalah Bali Handara Golf Resort. Masuk ke sana ? Haha, kami cuma foto-foto saja di gerbang pintu masuknya. Seperti memiliki selera humor yang tinggi bila kami jauh-jauh ke Bali dengan motor lalu bermain golf di sini..

Eits jangan salah, spot foto ini sangat iconic di Bedugul.

Usai sudah kami menikmati Bedugul, dan sekarang saatnya pindah ke dataran tinggi sebelah, Ubud.

Tujuan pertama kami di Ubud adalah Tegalalang Rice Terrace. Sebuah tempat di mana terdapat sawah-sawah yang tersusun secara terasering dan menjadi daya tarik wisatawan asing. Tempat ini juga diakui UNESCO World Heritage sebagai warisan budaya dunia.

The next destination is “Desa Penglipuran” ! Desa ini mendapat gelar sebagai desa terbersih di dunia.

Beberapa aktivitas warga kesehariannya dapat kita lihat di sini. Sangat tenang dan damai. Sore hari adalah timing yang pas untuk berkunjung ke desa ini.

Perkenalkan, he is Andrew. My best friend since i was in Senior High School yang kebetulan sekali bisa bergabung dalam liburan ini.

Si Andre heran apakah warga di sini sedang bersandiwara atau memang ini keseharian mereka ? Ya jelas ini keseharian mereka dan justru kitalah yang bersandiwara karena selfi-selfi geje di kampung orang. 😀

Saat kami ke sini, sebenarnya sedang berlangsung kegiatan warga untuk menyiapkan upacara Ngaben keesokan harinya. Sayang sekali karena ini kesempatan langka sekali dan kami melewatkan begitu saja karena jadwal sudah kami atur.

Kami lalu menuju Denpasar untuk check in di hotel yang sudah kami pesan jauh-jauh hari.

Malam harinya kita masih sempat muter-muter ke Legian, Kuta. Sekaligus memenuhi hasrat si Andre yang kepengen nge beer di sini. Haha dasar.

Psst, no photos are allowed to published. :p

Setelah kemarin edisi full dataran tinggi, di hari ketiga kami di Bali ini akan kami isi dengan full pantai.

Untuk trip hari ini kami ditemani oleh Daniel, teman kami sewaktu SMA dan sekarang tinggal di Bali.

Tujuan pertama kami adalah Waterblow yang terletak di Peninsula Beach Resort. Untuk ke sini kami memilih melewati tol Mandara Bali.

Kapan lagi ya kan… Bisa riding di jalan tol dengan kanan kiri laut lepas ? ya nggak ? 😀

And… We got the best view on motorcycle when in Bali.. Laut dan Langit birunya bikin gak tahaan…

Sampai juga di Peninsula Beach Resort ! Very recommended bila berkunjung ke Bali dan ingin ke pantai yang asri dan banyak pepohonan.

Di resort ini mayoritas adalah bule, entah kenapa local tourist sangat sedikit di sini.

Spot yang saya cari-cari… The waterblow effect !! Hempasan ombak yang menerjang dinding karang menciptakan efek ombak yang menjulang ke atas.

 Lanjut dari Waterblow masih ada beberapa spot menanti, diantaranya Pantai Pandawa dan Pantai Dreamland…

Untungnya kami ke sini saat tidak musim liburan, sehingga bebas dari kemacetan dan pengunjung yang relatif sepi. Jarak antar pantai di area Nusa Dua juga tergolong dekat sehingga tidak memakan waktu banyak untuk perjalanan.

Oh jadi ini ya Pantai Pandawa, pantai yang sempat booming kemarin itu. Sempurna ! Namun karena kami datang ketika matahari berada pada puncaknya, maka kami lebih memilih berteduh di bawah tebing yang terdapat beberapa pahatan patung di sana.

Saya bersama si Adit… Oh ya dalam ini kami sempat mengalami trouble pada motor and He is a mechanic on this journey !

Ini si Dede malah asik-asik aja narsis di pantai sedangkan boncengernya Adit, ditinggal di atas tebing, haha.

Selanjutnya kami menuju Blue Point beach dan Dreamland beach !!

Sayang sekali untuk Blue Point kadar narsis kami menurun drastis karena haus dan kurang asupan gizi, wkwkwkwk. Di sini 90% bule semua, edun !

And finally…. Dreamland Beach… ! Pantai terakhir yang kami kunjungi selama berada di Bali. Kami menaruh harapan besar pada pantai ini untuk melihat sunset dan sekedar main air…

Very.. Very nice place to visit.. Emang ngga salah dah milih nih pantai. Hello, warm greeting from these two lovely ladies.. 😀

Banyak hal yang bisa kita lakuin di sini. Mulai dari berselancar, ngobrol sama bule, atau cuma tidur-tiduran di Sun lounge.

Namun dasarnya jiwa kami jiwa usil, ngga bisa kalem sebentar. Ada anak kecil dari HK lagi main pasir, eh diusilin sama temen-temen. Dilempari pasir padahal nyokapnya lagi asik selfi malah kita diajak selfi sekalian wkwkwkwk.

Cerita romansa kita yang singkat ini kau akhiri dengan perpisahan yang sempurna. Damn you Bali !! We will miss you someday…

Salam persaudaraan dari pulau seberang.. Semoga kelak kita dapat dipersatukan lagi dalam perjalanan seru lainnya…

Dan doraemon pun seakan memanggil kita untuk kembali ke realita namun tidak dengan pintu ajaibnya. There are still many things to be done fellaz !

Keesokan harinya kami bergegas untuk kembali ke kota asal, Yogyakarta. Humm memang ya.. Sejauh-jauhnya kita melangkah, rumah dan keluarga adalah alasan kita kembali.

Gentlemen, let’s start your engine. We will return to the airbase ! And for Andre, have a safe flight !

It’s time to say goodbye, but i think goodbyes are sad and i’d much rather say hello. Hello to a new adventure…

Advertisements

4 thoughts on “Journey to the East, Bali

  1. Mantap om banyak destinasi” asik yg blm pernah aku ke sana, kecuali pantai pandawa. Nyamannya di Bali ya emang pas weekday, dulu aku pas weekend, ramenya jalan dan tempat wisata bikin sedikit pusing. Jadi mindsetku tentang Bali enggak ‘wah’ lagi. Tapi setelah baca storymu jadi kagum lagi sama Bali..

    Like

    • Hehe iya om makasih sudah mampir, sebenernya ngetrip di denpasar dan sekitarnya ngga terlalu buruk juga kok om. Meskipun banyak yg bilang udah mainstream bgt. Tp klo bs dikombinasikan sama dataran tinggi lebih asyik lg 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s