Ketika interaksi sosial mulai tergantikan oleh hadirnya GPS

14292246_1663802283934254_2690229277438944177_n

Saya masih ingat betul ketika saya masih kecil lalu ayah saya mengajak saya untuk berpergian naik motor, dalam istilah kerennya adalah “touring”. Jaman dulu masih belum ada yang namanya GPS. Semua masih serba manual dengan menggunakan catatan kertas. Kalau sudah kepepet mentok dan tidak tahu rute biasanya langsung mencari warga setempat untuk bertanya.

Kalau warga tersebut punya warung maka bisa sekalian mampir makan atau minum sambil ngobrol santai. Nah dari obrolan santai  tersebut kelak didapatkan info rute bahkan info kondisi sosial & lingkungan di tempat tersebut.

Saya pun juga mencontoh ayah saya dalam hal interaksi bertanya ketika sudah bisa touring sendiri. Ada perasaan yang sangat humanis sekali ketika kita bisa bercengkrama dengan warga sekitar, dan hal itulah yang memacu jiwa sosial kita.

Namun ketika saya sudah mengenal yang namanya GPS semua tampak semakin mudah. Lha gimana ? Kita tinggal ketik mau kemana atau mau di posisi mana, handphone sudah bisa mengarahkan kita ke tujuan.

22990248002_2be5f52998_o

Sebuah pengalaman dengan kesan berharga saya dapatkan ketika sedang berpergian ke luar kota. Saat itu saya masih belum hapal betul dengan rute yang akan saya lewati sehinga mengharuskan saya menepi dan membuka GPS. Saat saya berhenti, tepat di depan saya ada seorang bapak-bapak yang memperhatikan saya secara kontinyu.

Dari gestur dan raut wajahnya seperti ingin bertanya dan peduli. Namun karena saya sudah dibutakan oleh GPS sehingga saya tidak “ngeh” dengan interaksi untuk menyapa. Baru setelah rute saya pahami lewat GPS, saya lalu bertanya kepada si bapak tersebut untuk memastikan.

Betapa kagumnya saya akan respon bapak itu yang dengan antusias sekali menjawab pertanyaan saya. Ia bahkan dengan ramah dan detail menjelaskan rute tujuan saya. Saat saya pamit pun diiringi dengan pesan hati-hati dari beliau. Saya menganggap itu adalah sebuah ucapan doa. 

Seketika saya lalu sadar bahwa pada akhirnya interaksi seperti ini memang masih dibutuhkan ketika kita sedang di luar rumah.

Semoga untuk perjalanan selanjutnya saya tidak terlalu bergantung pada GPS dan lebih meningkatkan interaksi sosial. Seperti cara yang biasa saya gunakan sebelum mengenal GPS. Selain itu menurut saya, dengan tidak terlalu mengandalkan GPS juga akan mempertajam insting dan ingatan kita saat perjalanan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s